PetroChina & Pemerintah Tanjab Timur Berlimpah Produksi, Namun Warga Masih Sulit!

Gesturkata.com | OPINI: Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, merupakan wilayah yang memiliki kekayaan alam melimpah. Di bawah tanahnya, minyak dan gas dari Blok Jabung mengalir dan dikelola oleh PetroChina International Jabung Ltd. (PCJL). Sejak mengambil alih pengelolaan pada 2002, PetroChina telah menjadi salah satu perusahaan energi yang memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara. Namun, di balik tingginya produksi tersebut, masyarakat yang hidup di sekitar wilayah operasi belum sepenuhnya merasakan dampaknya. Kemiskinan masih tinggi, akses pendidikan tertinggal, dan kondisi kesehatan masyarakat rentan. Ironisnya, di tanah kaya energi ini, sebagian besar warganya masih berjuang sekadar untuk hidup layak.

Produksi Migas Tinggi, Manfaat Tidak Sampai ke Masyarakat

PetroChina bukanlah pemain kecil dalam industri migas. Produksi di Blok Jabung mencapai lebih dari 50.000 barel setara minyak per hari (BOEPD). Catatan PetroChina Indonesia serta SKK Migas menunjukkan bahwa Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang diterima Kabupaten Tanjab Timur pada 2023 mencapai Rp67,52 miliar, meningkat dari Rp58,10 miliar pada tahun sebelumnya.

Namun kondisi sosial masyarakat masih jauh dari kata ideal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan di Tanjab Timur berada di angka 10,95%, lebih tinggi dari rata-rata Provinsi Jambi yang hanya 7,5%. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga masih rendah, yakni 69,85 dibandingkan IPM provinsi yang mencapai 73,73. Bahkan, 27,08% penduduk belum pernah mengenyam pendidikan, dan 10,48% lainnya tidak menamatkan sekolah dasar.

Dengan jumlah pendapatan daerah yang cukup besar, seharusnya tidak ada lagi anak putus sekolah, tidak ada lagi keluarga hidup di garis kemiskinan, dan layanan kesehatan mestinya tidak lagi menjadi persoalan besar.

PetroChina Menghasilkan Banyak, Namun Perubahan Sosial Belum Terlihat

PetroChina memang menjalankan berbagai program Tanggung Jawab Sosial (CSR). Pada 2022, perusahaan menyerahkan delapan program CSR bernilai total Rp16,7 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Tanjab Timur. Selanjutnya, pada 2024 mereka kembali menyalurkan 18 program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) berupa pembangunan jalan beton, fasilitas literasi, hingga beasiswa.

Namun demikian, program-program ini belum menjadi kekuatan yang mendorong perubahan besar bagi masyarakat. Sebagian besar program bersifat seremonial dan jangka pendek, belum mampu menyentuh akar persoalan kesejahteraan dan kualitas hidup.

Di sisi lain, industri migas membawa potensi risiko ekologis. Meskipun PetroChina menyebut telah melakukan rehabilitasi 473 hektare Daerah Aliran Sungai (DAS), masyarakat setempat masih merasakan dampak lingkungan yang mengganggu. Prinsip keadilan sosial menuntut agar beban ekologis yang dialami masyarakat seimbang dengan manfaat ekonomi dan sosial yang mereka peroleh.

Lemahnya Peran Pemerintah Daerah dalam Menjaga Kepentingan Publik

Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur tidak boleh hanya menjadi pihak yang menerima laporan CSR setiap tahun tanpa evaluasi. Jika masyarakat masih hidup dalam kemiskinan dan IPM tetap rendah, berarti pemerintah daerah belum menjalankan perannya dengan optimal dalam memastikan hasil migas tersalurkan secara adil. DBH Migas senilai Rp67 miliar bukan jumlah kecil, namun tanpa transparansi anggaran dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat, anggaran ini berpotensi hanya berputar di lingkaran birokrasi.

Pemerintah perlu menuntut PetroChina untuk lebih serius menyerap tenaga kerja lokal, membantu pengembangan UMKM, serta meningkatkan investasi sosial khususnya pada sektor pendidikan dan kesehatan.

Dampak Lingkungan Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Industri migas tidak hanya mengambil kekayaan alam, tetapi juga meninggalkan jejak ekologis. Ketika masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasi turut terkena dampaknya, maka PetroChina dan pemerintah memiliki kewajiban moral untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sebagai bentuk kompensasi.

Kaya Sumber Daya, Namun Rakyat Belum Merasakan Keadilannya

Sudah lebih dari dua dekade PetroChina beroperasi di Tanjung Jabung Timur. Meski triliunan rupiah kekayaan menghasilkan minyak dan gas, masyarakat belum benar-benar menikmati kesejahteraan yang seharusnya datang bersama kekayaan alam tersebut. Inilah paradoks sumber daya: kekayaan alam besar, tetapi warganya masih bergulat dengan persoalan dasar.

Kini waktunya PetroChina dan Pemkab Tanjab Timur membuktikan bahwa kehadiran industri migas tidak hanya meninggalkan bekas dan angka produksi dalam laporan tahunan. Masyarakat membutuhkan bukti nyata berupa pendidikan yang mudah terjangkau, layanan kesehatan memadai, lingkungan yang bersih, serta peluang ekonomi yang terbuka luas.

Kemajuan daerah bukan karena seberapa banyak minyak yang terambil dari perut bumi, melainkan seberapa besar kesejahteraan dan kebahagiaan yang benar-benar bisa mensejahtrakan masyarakatnya.( jun)

 

Opini Oleh: [M ARJUNA PASE – Masyarakat/Mahasiswa Tanjab Timur]

Baca Juga
Alamat:
Perumahan Rawasari Permai
Kelurahan Rawasari
Kecamatan Alam Barajo - Kota Jambi
No. 89 - RT 32 - Kode Pos: 36125